Desa Sebani merupakan salah satu Desa yang berada wilayah Kecamatan Tarik yang Masyarakatnya sebagian besar bermata pencaharian di bidang industry (buruh pabrik), pertanian, industri rumah tangga, UMKM, dan sebagainya yang mempunyai karakter masyarakat sesuai adat timur yaitu sopan, beretika/beradab, bekerja siang, dan religius, jumlah penduduk yang terus bertambah dari tahun ke tahun sehingga merupakan daerah yang berpenduduk sangat padat dengan tingkat pendidikan yang bervariasi mulai tamat SD sampai dengan Perguruan Tinggi, tingkat kesehatan masyarakat Desa Sebani cukup baik karena ditunjang dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai serta kesadaran masyarakat yang cukup tinggi tentang arti kesehatan. Jarak desa Sebani ke ibu kota Kecamatan Tarik yang relatif dekat sehingga mempengaruhi pola dan tingkah laku masyarakat Desa. Desa Sebani terdiri dari 4 (empat) Dusun, yaitu Dusun Blijo Utara, Dusun Blijo Selatan, Dusun Sebani, dan Dusun Blere yang mempunyai adat,budaya, latar, dan cerita yang berbeda-beda.
Dusun Blijo (awal mula nama dusun) yang babat Dusun pertama kali bernama Mbah Genggong dan Mbah Setu Diceritrakan bahwa pada zama dahulu di Dusun Blijo awal mula terhampar hutan yang luas dan konon sangat sengit/angker,sehingga tidak memungkinkan untuk dihuni penduduk. Singkat cerita, Mbah Genggong memulai babat alas di bagian Selatan menuju ke Utara yang konon katanya sesampai di bagian sebelah Utara, dibantu oleh Mbah Setu karena Mbah Genggong memberi mandate kepada Mbah Setu untuk melanjutkan babat alas tersebut. Hingga sampai saat ini, Blijo menjadi pesat dan menjadi ibukota Desa Sebani karena mengawali peradaban/pusat di wilayah Dusun Blijo dan sekarang menjadi oadat penduduk sehingga mengalami pemekaran wilayah yaitu Dusun Blijo Utara dan Blijo Selatan. Konon, Mbah Genggong berikrar bahwa nama Blijo adalah hanya satu satunya nama wilayah yang hanya ada di Desa Sebani Kecamatan Tarik dan tanpa ada duanya yang menyamai nama (Blijo) tersebut di wilayah manapun.
Dusun Sebani yang babat Dusun pertama kali bernama Mbah Sodani Diceritrakan bahwa pada zaman dahulu di Dusun Sebani, terdapat makam yang muncul dari adanya mimpi para tokoh masyarakat dan agama di wilayah tersebut dengan isyaroh bahwa makam tersebut seyogyanya dijaga dan dilestarikan karena makam tersebut adalah makam Mbah Sodani, yang konon memulai babat dusun. Dusun Sebani, adat budaya dan kontur penduduknya sebagian besar berkarakter Religious.
Dusun Blere yang babat Dusun pertama kali bernama Mbah Derpo, Mbah Drukiyo, dan Mbah Simbar Diceritrakan bahwa pada zaman dahulu di Dusun Blere babat dusun dilakukan oleh Mbah Derpo, namun suatu ketika Mbah Derpo berdampingan dengan Nyai Pandansari yang konon berdiam di Kedungsari Kota Mojokerto, sehingga sampai saat ini bekerjasama ketika Ruwah Deso/Bersih Desa karena (konon) masih satu darah/keluarga. Dalam babat Dusun Blere tersebut, Mbah Derpo dibantu oleh 2 (dua) ajudan yaitu mbah Drukiyo dan Mbah Simbar serta Mbah Suto sebagai Pangonan (pemelihara barang/ternak Mbah derpo).
Desa mempunyai sejarah kepemimpinan Desa yang dahulu seorang pemimpin desa disebut Lurah dan sekarang telah diganti nama dengan Kepala Desa sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang. Adapun sejarah kepemimpinan Desa adalah sebagaimana tersebut dibawah ini :
|
No |
Nama Kepala Desa |
Periode |
|
1 |
Gunawan |
1932-1955 |
|
2 |
Coengali |
1955-1997 |
|
3 |
Adi Mursito |
1998-2006 |
|
4 |
Nurhayati |
2007-2013 |
|
5 |
Adi Mursito |
2013-2019 |
|
6 |
Krustiyanto |
2021-2029 |